Home‎ > ‎

OLAH RAGA MENYEBABKAN KEMATIAN?

Olahraga baik untuk kesehatan. Namun, mengapa justru “banyak” orang yang meninggal setelah berolahraga? Anda tentu mendengar beberapa tokoh seperti mendiang Benyamin S, Basuki, Burhanudidin Napitupulu dan Adjie Massaid yang meninggal setelah berolahraga. Belum lagi kasus-kasus lain pada tetangga, saudara, teman dan orang lain yang Anda kenal. Apakah olah raga dapat berbahaya bagi kesehatan?


PENYAKIT JANTUNG

Penyebab umum kematian saat atau sesudah berolahraga adalah kelainan kardiovaskular struktural, terutama penyakit jantung koroner. Olahraga kompetitif seperti sepak bola, basket, berenang, tenis dan bisbol diketahui memiliki insiden tertinggi kematian jantung mendadak. Penelitian oleh RJ Northcote, ddk (1986) pada 60 kematian mendadak (59 laki-laki, 1 wanita dengan usia rata-rata 46 tahun) yang terkait dengan permainan squash menjelaskan bahwa penyebabnya adalah penyakit arteri koroner (51 kasus), penyakit katup jantung (4 kasus), aritmia jantung (2 kasus), dan kardiomiopati hipertrofik (1 kasus). Hanya ada dua kematian oleh penyebab non-jantung.

Perlu diketahui bahwa orang yang sangat sehat secara fisik pun dapat memiliki penyakit jantung berat. Sebagai contoh, dalam penelitian oleh Siscovick (1982) para pelari maraton yang meninggal dunia dalam seminggu setelah menyelesaikan Camerad Marathon 90-km diketahui memiliki penyakit arteri koroner lanjutan yang parah. Seorang pelari 42 tahun yang menyelesaikan maraton standar 42,2 km hanya dalam 3 jam 6 menit hanya tiga minggu sebelum kematiannya menunjukkan dia memiliki oklusi lengkap satu arteri koroner utama dan penyempitan 75% pada dua lainnya. Atlet Rusia Sergei Grinikov, peraih dua medali emas Olimpiade yang baru berusia 28 tahun pingsan dan meninggal saat berlatih. Otopsinya menunjukkan penyakit arteri koroner sebagai penyebabnya.


MEKANISME SERANGAN JANTUNG

Ada tiga mekanisme bagaimana aktivitas fisik yang kuat menimbulkan serangan jantung. 


Pertama : gelombang awal tekanan darah yang meningkat karena latihan dapat menyebabkan perpecahan plak aterosklerotik yang rentan sehingga melepaskan thrombus (gumpalan darah) yang menyebabkan sumbatan (oklusi) total

Kedua : plak aterosklerotik yang tidak menyumbat (non-oklusif) dapat menimbulkan kematian otot-otot jantung karena ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan oksigen otot jantung.


Ketiga : serangan jantung selama latihan mungkin timbul dari kejang arteri koroner, yang paling sering terjadi di lokasi aterosklerosis. Terlepas dari mekanisme mana yang bertanggung jawab atas serangan jantung, semua kasus kematian jantung mendadak terkait latihan disebabkan pengurangan besar output jantung, penurunan aliran darah otak, dan kehilangan kesadaran.


Apakah olah raga meningkatkan risiko kematian mendadak?


Berbagai studi menunjukkan bahwa risiko kematian (mendadak atau tidak) berkurang pada orang yang berolahraga secara teratur. Penelitian oleh Siscovick menunjukkan bahwa berolahraga secara rutin mengurangi risiko kematian mendadak sampai 70%. Artinya, bila Anda tidak rajin berolahraga risiko Anda mati mendadak adalah 3 kali risiko mereka yang rajin berolahraga. Berolahraga teratur secara signifikan mengurangi risiko penyakit jantung dan gangguan kardiovaskuler lainnya.

Orang-orang yang memiliki penyakit kardiovaskuler mendapatkan manfaat terbesar dari berolahraga secara teratur. Namun, pada orang-orang yang berpenyakit jantung, risiko kematian mendadak meningkat pesat PADA SAAT atau SESUDAH berolahraga yang intens.


TIPS UNTUK ANDA


Untuk mengurangi risiko kematian yang terkait olahraga, berikut adalah beberapa tips yang perlu diperhatikan:

  • Mulailah berolahraga dengan intensitas ringan dan tingkatkan intensitasnya secara bertahap. Jangan berolahraga dengan intensitas tinggi secara tiba-tiba.
  • Bila Anda berusia lebih dari 50 tahun, lakukan pemeriksaan kardiovaskular sebelum memulai semua jenis program latihan. Bila Anda berusia kurang dari 50 tahun tetapi memiliki riwayat keluarga dengan kondisi yang berhubungan dengan kematian mendadak atau memiliki gejala dan tanda-tanda penyakit kardiovaskuler (hipertensi, hiperkolesterolemia, dll), Anda juga perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengikuti program latihan olahraga. Semua orang yang berpenyakit jantung harus mendapatkan pengawasan medis saat mengikuti program olahraga, paling tidak pada awalnya.
  • Bila Anda merasakan sakit perut, sakit dada, sesak napas abnormal (melebihi biasanya yang disebabkan aktivitas intens) dan gejala serangan jantung lainnya, segera hentikan aktivitas Anda dan dapatkan nasihat medis dari dokter. Sebagian besar (80%) orang yang mati mendadak selama latihan mendapatkan gejala peringatan penyakit jantung yang diabaikan, memilih terus melanjutkan aktivitas bukannya mencari nasihat medis.
  • Jaga tingkat kolesterol dan tekanan darah Anda pada tingkat normal. Bila kolesterol dan tekanan darah Anda tinggi, segera lakukan langkah-langkah untuk menurunkannya. Pertahankan pola makan sehat dan seimbang yang menyehatkan jantung.
  • Berhentilah merokok. Merokok merupakan penyebab utama dari penyakit arteri koroner. Para perokok rata-rata meninggal hampir 7 tahun lebih muda dari non-perokok.
  • Banyak berdoa pada Tuhan YME agar diberikan kesehatan lahir dan bathin......
Comments